WELCOME TO MY BLOG

Senin, Juni 14, 2010

DIALEKTIKA PERISTIWA DAN MAKNA, SERTA MAKNA UJARAN DAN PENGUJAR



DIALEKTIKA PERISTIWA DAN MAKNA

Dialektika berdasarkan pada pemikiran marxis yang menegaskan bahwa kontradiksi adalah inti dari segala sesuatu baik didalam alam maupun didalam kehidupan manusia. Kontradiksi adalah fakta senteral segala sesuatu yang ada. Peruses dialektika meliputi tesis, antithesis, dan sintesis.
Dialektika adalah penataran dengan dialog sebagai cara untuk menyelidiki suatu masalah. Dialektik merupakan seni berfikir secara teratur, logis dan teliti, yang diawali dengan tesis, antesis dan sistensis. Jadi dapat disimpulkan bahwa dialektika peristiwa merupakan suatu kejadian atau peristiwa dimana dua orang atau lebih yang berdialog untuk menyelidiki, membahas, atau menyelesaikan suatu permasalahan.

MAKNA UJARAN DAN PENGUJAR
Konsep makna memberikan dua interpretasi. Hal ini mencerminkan adanya dialektika antara peristiwa dan makna. Dua interpretasi tersebut adalah :
1. Apa yang dimaksud oleh pembicara, yaitu apa yang ia kehendaki dari perkataan.
2. Apa yang dimaksudkan oleh kalimat, yaitu apa yang dihasilkan oleh konjungsi antara fungsi identifikasi dan fungsi predikatif.

Percakapan merupakan satu kegiatan atau peristiwa berbahasa lisan antara dua atau lebih penutur yang saling memberikan informasi dan mempertahankan hubungan yang baik. Didalam percakapan inilah kita berkomunikasi dengan seseorang.
Sewaktu berkomunikasi, kita itu mengkomunikasikan amanat, dan proses berkomunikasi itu terkondisi oleh berbagai situasi, umpamanya rebut hingga kita harus berteriak, dan dalam situasi formal kita juga harus memilih kata-kata yang formal pula. Suasana mengkondisi penyampaian, dan tambah pula bahwa amanat yang sama dapat disampaikan dengan berbagai cara. Singkatnya bentuk amanat itu sendiri adalah satu faktor dalam situasi ujaran. Pertuturan mempunyai 7 macam fokus yang menjadi orientasi kegiatan penuturan yaitu:
(1) penutur,
(2) pendengar (penanggap tutur),
(3) kontak antara kedua pihak,
(4) kode linguistik yang dipakai,
(5) latar (setting),
(6) topik amanat, dan
(7) bentuk amanat.

Ada pula fungsi ujaran, meliputi:
1. Bila berorientasi pada sipenutur, maka fungsi bahasa adalah personal atau peribadi. Ini mencerminkan sikap dia terhadap yang dituturkannya. Bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi memperlihatkan emosi dia sewaktu menyempaian yang dituturkan.
2. Bila berorientasi pada penanggap tutur, maka bahasa berfungsi directif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar.
3. Bila berorientasi pada pihak pada kontak antar pihak yang sedang berkomunikasi, maka fungsi bahasa sebagai menjalin hubungan, memeliharanya, memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas social.
4. Bila orientasinya pada topik ujaran, maka fungsi bahasa disebut referential. Ini mengacu bahasa sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa dalam lingkungan sekeliling atau didalam kebudayaan pada umumnya.
5. Dilihat dari amanat atau message. Bahasa pun bias kita pakai untuk mngungkapkan pikiran atau gagasan baik sesungguhnya atau tidak, perasaan dan khayalan.

Intensionalitas
Intensionalitas atau kebermaksudan adalah sikap pengujar (penghasil teks) mengenai serangkaian peristiwa pengujarannya. Dalam sikap tersebut, peristiwa-peristiwa ujarannya dibuat sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan keinstrumenan teks yang terpadu dan berpadu untuk memenuhi maksudnya. Sebagai contoh adalah peristiwa komunikasi dalam penulisan dan penyajian makalah ini. Segala hal terkait penulisan dan penyajian makalah ini dirancang sedemikian rupa sehingga menyatu dan nyambung serta berakhir pada pemahaman konsep yang cenderung sama dan benar. Intensionalitas adalah keadaan yang di dalamnya penulis dan pengujar harus secara sadar memiliki maksud mencapai tujuan tertentu dengan pesannya.
Sebaliknya, keberterimaan terkait sikap penerima teks mengenai serangkaian peristiwa pengujaran, yang di dalamnya dipersyaratkan bahwa serangkaian persitiwa ujaran tersebut harus merupakan teks yang kohesif dan koheren sehingga berguna atau relevan bagi penerima teks tersebut, misalnya terkait kebutuhan pengetahuan atau kerja sama dalam penjalankan rencana. Keberterimaan mengacu kepada suatu rangkaian kalimat berterima bagi audien. Dua definisi tersebut bermakna sama, yaitu kesesuaian dan kemanfaatan teks bagi penerima. Terkait contoh pada intensionalitas, makalah dan penyajian ini berterima jika memang dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi rekan-rekan kami sekelas tercinta.

Tindak Tutur
Tindak tutur adalah unit bahasa terkecil untuk mengekspresikan makna. Tindak tutur adalah ujaran yang mengekspresikan maksud. Ciri penting tindak tutur adalah penerima tuturan mengerti maksud pengujar. Searle mengelompokkan tindak tutur menjadi empat, yaitu: tindak ujar (utterance act), tindak proposisional (propositional act) atau lokusi, tindak lokusioner, dan tindak perlokusioner. Tindak tutur adalah pelafalan, pengujaran, dan tidak lebih. Contoh sederhananya adalah seorang anak sekolah yang belajar melafalkan bunyi “aku”’ “cinta”, “padamu”, atau “aku cinta padamu”, dan memang sekadar membunyikan ujaran. Tindak proposisional adalah pengujaran suatu kalimat yang memiliki acuan. Contoh sederhananya adalah anak yang belajar mengujarkan “Aku cinta padamu”. Si anak mengetahui hubungan gramatikal antarkata yang diujarkannya, tahu arti tiap-tiap kata yang diucapknnya, dan tahu arti kalimatnya.
Tindak ilokusioner adalah penyampaian maksud kepada orang lain dengan maksud memeroleh tanggapan. Contoh sederhananya adalah seorang anak muda yang menyatakan bahwa dia mencintai pemudi yang diajaknya berbicara. Katanya “Aku cinta padamu” dan ia hanya mengharapkan tanggapan. Tindak perlokusioner adalah suatu kegiatan pengujaran dengan maksud agar pengujarannya berakibat pada perilaku yang diharapkannya. Contoh sederhananya adalah pada konteks tertentu pacar seorang pemuda marah kepadanya karena merasa tidak diperhatikan atau tidak memeroleh cinta yang sepadan dari sang pemuda. Untuk meredakan kemarahan si pacar dan memroleh kembali senyumnya, syukur-syukur dengan ciuman mesra sang pacar kepadanya, sang pemuda pengungkapkan ujaran “Aku cinta padamu”.

Referensi
Ikhsanudin. Wacana:Pengantar Singkat. http://semriwing.wordpress.com/wacana/Analisis
Drs. A. Chaendar Alwasilah. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa. 1990

oleh:
NAMA : NURFAZRI IMANIAH
NIM : 108015000109

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar