WELCOME TO MY BLOG

Senin, Juni 14, 2010

TEORI REFERENSIAL DALAM MEMAHAMI MAKNA


TEORI REFERENSIAL DALAM MEMAHAMI MAKNA

Menurut Alston, teori referensial merupakan salah satu jenis teori makna yang mengenali atau menidentifikasi makna suatu ungkapan dengan apa yang diacunya atau dengan hubungan acuan itu. Istilah referen itu sendiri menurut Palmer(1976:30) “reference deals with the relationship between the linguistic element, word, sentences, etc, and the nonlinguistic word of experience” (hubungan antara unsur – unsur linguistic berupa kata – kata, kalimat – kalimat dan dunia pengalaman yang non linguistik.
Referen atau acuan boleh saja benda, peristiwa, proses atau kenyataan. Referen adalah sesuatu yang ditunjuk oleh lambing. Jadi, kalau seseorang mengatakan sungai, maka yang ditunjuk oleh lambing tersebut yakni tanah yang berlubang lebar dan panjang tempat mengalir air dari hulu ke danau atau laut. Kata sungai langsung dihubungkan dengan acuannya. Tidak mungkin timbul asosiasi yang lain. Bagi mereka yang pernah melihat sungai, atau pernah mandi di sungai, sudah barang tentu mudah memahami apa yang dimaksud dengan sungai.

Makna Sebagai Arti dan Referensi

Pada bab – bab terdahulu telah dikatakan bahwa dialektika peristiwa dan makna merupakan suatu dialektika inti dari makna wacana. Untuk memaknai apa yng dilakukan pembicara, juga apa yang dinyatakan oleh kalimat. Makna ujaran pada makna isi preposisi merupakan sisi obyektif dari makna, sedangkan makna pengujar pada makna referensi kalimat dan kehendak yang diketahui pendengan merupakan sisi subyektif dari makna.
Dialektika obyektif-subyektif tidaklah memberi penyelesaian makna, oleh karena itu tidak menyelesaikan struktur wacana. Sisi obyektif wacana itu sendiri dapat diberikan dengan dua cara. Kita dapat memaknai ‘apa’ dan ‘tentang apa’ wacana itu merupakan ‘referensi’. Ini merupakan perbedaan yang dapat langsung dihubungkan dengan perbedaan semiotik dan semantic.
‘mengacu’ merupakan apa yang dilakukan kalimat pada situasi tertentu dan menurut kegunaan tertentu, juga apa yang dilakukan pembicara ketika ia menerapkan kata – katanya pada kenyataan. Seseorang mengacu kepada sesuatu, pada saat tertentu merupakan peristiwa ujar. Tetapi peristiwa ini, menerima strukturnya dari makna sebagai arti. Dengan cara ini dialektika peristiwa dan makna menerima perkembangan baru dari dialektika arti dan referensi. Dialketika arti dan referensi inilah yang memberikan hubungan antara bahasa dan kondisi ontologis yang ada di dunia.
Kita mengandaikan bahwa sesuatu berada dalam susunan, sehingga sesuatu itu bisa diidentifikasi, tetapi kita memerlukan sebuah referensi. Pengendalian ini diperlukan, sehingga kita harus menambahkan ketentuan – ketentuan yang spesifik jika kita ingin mengacu ke sesuatu yang sifatnya fiktif.
Kebermaknaan universal dari problem referensi sangatlah luas, wacana mengacu kembali pada pembicaranya, pada saat yang sama hal itu mengacu kepada dunia. Wacana dalam tindakan dan dalam kegunaan mengacu kembali dan datang lagi menuju pembicara dan dunia. Ini merupakan criteria pokok dari bahasa sebagai wacana.

A. Teori Referensial

Teori referensial atau teori korespondensi merujuk pada segitiga makna (symbol, reference, dan referent) yang dikemukakan oleh OR. Makna adalah hubungan antara reference dan referent yang dinyatakan lewat simbol bunyi bahasa baik berupa kata ataupun prase atau kalimat. Simbol bahasa dan rujukan atau referent tidak mempunyai hubungan langsung. Teori ini menekankan hubungan langsung antara reference dengan referent yang ada di alam nyata.
Jika kita memperhatikan ujaran dalam sebuah bahasa, misalnya “Ronald Reagan”, ‘Rudi Hartono’, ‘ Jakarta’ atau frase nomen seperti “sang mantan wakil presiden RI 1983-1988’, ‘orang pertama yang berjalan dibulan’, maka sudah pasti makna ujaran itu merujuk kepada benda atau hal yang sama. Nah, itulah teori makna sesuai dengan teori referensi atau korespodensi. Jika kita menerima bahwa makna sebuah ujaran adalah referennya, maka setidak – tidaknya kita terikat pula pada pernyataan berikut ini.
1) Jika sebuah ujaran mempunyai makna, maka ujaran itu mempunyai referen.
2) Jika dua ujaran mempunyai referen yang sama, maka ujaran itu mempunyai makna yang sama pula,
3) Apa saja yang benar dari referen sebuah ujaran adalah benar untuk maknanya.
Referensi

Sobur,alex. Semiotika komunikasi. Bandung: PT. Rosda karya. 2006
J.D.parera, teori semntik edisi kedua. Jakarta: erlangga. 2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar